Ceritanya, si bibi ini kesenangan karena mendapat pembagian beras dari seorang saudagar beras tionghoa di daerahnya. Sekitar 50 - 100 orang mengantri di toko sang saudagar untuk menerima pembagian beras. Tentunya kita sudah dapat menduga, tentunya orang orang yang susah yang mau mengantri panas terik dengan aroma tubuh satu sama lain yang sama sama menyengat dikarenakan keringat, dan semua dilakukan demi perut.
Nah, beras yang didapat bukan tanggung, 20kg per orang. Bayangkan, jika 50 orang saja yang dibagi x 20 kg maka 1 ton beras yang didermakan oleh saudagar ini untuk rakyat miskin.
Semua yang menerima bersyukur karena rejeki tiba tiba. Setelah sampai di rumah, istri atau suami yang menunggu di rumah semakin bersyukur pula karena stock beras untuk satu - dua bulan sudah terpenuhi. Beras dimasak dengan senang hati dan siap dimakan dengan lauk yang ada.
Namun apa nyana, nasi yang jadi adalah nasi yang keras melebihi nasi catu. Kuah yang dituangkan hingga nasi menggenang pun tidak memberi pengaruh besar, nasi tetap keras dan susah ditelan.
Pasti karena salah masak, pikir beberapa ibu, maka nasi yang sudah ada tetap dipaksakan harus habis dan esok beras akan dimasak dengan air yang lebih banyak.
Maka esoknya beras ditanak dengan air yang lebih banyak, bahkan ketika mendidih, air berkeluaran dari dandang demi nasi yang lembut. Tapi apa lacur, nasi tetap keras, bahkan hampir sama kerasnya dengan ikan asin goreng yang dijadikan lauk.
Maka nasi tersebut pun harus tetap dihabiskan dan letakkan saja tetap di magic jar atau di dandang agar bisa tetap hangat, karena nasi yang dingin bahkan lebih keras dari berasnya sendiri.
Mau dibuang, rejeki dari Tuhan. Tidak dibuang, mau makan pun bikin hilang selera, mau dikasi ayam, berarti harus keluar uang lagi untuk beli beras baru. Bahkan si nenek mengorek celengannya untuk membeli beras baru seharga Rp 8000.- untuk satu kilo beras agar bisa makan karena nasi yang lama susah ditelan.
Kalau sudah begini, mau menyalahkan siapa? Menyalahkan saudagar yang memberi beras dengan tujuan sedekah atau tujuan mengosongkan gudangnya atau persepsinya bahwa orang miskin bisa makan apa saja? Menyalahan Tuhan karena memberi rejeki yang nanggung? Atau menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu memberikan beras yang baik untuk keluarga? Atau menyalahkan pemerintah karena system kemiskinan terstruktur yang mereka ciptakan tanpa kita sadari?
Lalu si nenek pun bilang, "mau apa lagi?, sabar sajalah..."
Print this page
0 komentar:
Posting Komentar